[Book Review] Elantris Karya Brandon Sanderson

Akhirnya setelah sekian purnama aku membaca Elantris, novel genre fantasi yang sudah lama banget nggak aku jamah. Aku agak lupa, kayaknya buku fantasi terakhir yang aku baca itu Harry Potter. Haha

Iya, udah selama itu. Nah, nggak tau deh, kesambet apa, tiba-tiba aku baca Elantris yang ditulis oleh Brandon Sanderson.

Waktu itu aku tau novel ini dari goodreadsnya, Pradnya Paramitha, salah satu penulis favortiku. Jadi aku kepoin tuh buku apa aja yang dia baca. Dan nemu lah si Elantris ini, yang menarik mataku karena dia kasih rating sempurna aka bintang 5. Wow!

Jadinya makin penasaran aku sama bukunya, sebagus apa sih?

Oke, kita langsung cus bahas bukunya ya.

Sinopsis Elantris

Peta Elantris (Sumber: Pinterest)

Elantris adalah kota yang dipenuhi dengan sihir. Penduduknya disebut para dewa, abadi, rupawan, dengan tubuh bercahaya keperakan, dan mereka bisa menggunakan sihir dengan menggambar Aon (simbol untuk sihir yang akan digunakan). Kota Elantris sangat makmur, bahkan Elantrian bisa mengubah batu menjadi makanan.

Banyak orang di luar Elantris berdatangan untuk berobat, sihir penyembuhan di sana sangat terkenal. Tapi sepuluh tahun lalu, semua hancur. Keindahan Elantris lenyap, penduduknya yang rupawan, yang memiliki darah keperakan berubah menjadi makhluk jelek dengan kulit keriput, banyak noda hitam di kulitnya, rambut rontok, jantung mereka juga berhenti berdetak. Mereka terkena Shaod (kutukan yang mengubah penduduk Elantris).

Penampilan para Elantrian (sebutan untuk penduduk Elantris) mirip dengan mayat hidup. Bahkan ketika luka pun, luka itu tak akan pernah sembuh, sakitnya juga tak bisa hilang. Sesederhana jempol kaki tersandung dan mengalami luka, luka itu akan terus berdenyut. Rasa sakit yang abadi.

Keruntuhan Elantris membuat negara baru berdiri yang bernama Arelon, yang ibukotanya bernama Kae, dan Kae ini tepat di sebelah Elantris. Negara tersebut dipimpin oleh Iadon yang memiliki seorang putra mahkota bernama Pangeran Raoden. Rencananya karena alasan diplomatik pangeran Raoden akan menikah dengan Putri Sarene dari Negara Toed.

Tinggal menghitung hari pernikahan akan terjadi, tapi di pagi hari ketika Raoden bangun, ia terkena Shaod. Akhirnya ia dibuang ayahnya ke Elantris. Tempat di mana, semua orang yang terkena Shaod dikurung, dan tak boleh keluar dari kota itu.

Elantris kini adalah tempat yang kumuh, tertutupi lumpur menjijikkan, bangunan banyak yang runtuh, hingga batu-batu pun banyak yang keropos. Penghuni Elantris juga tak kalah buas, mereka terus kelaparan, walau sebenarnya mereka bisa hidup tanpa makan.

Biasanya, ketika ada orang baru yang datang ke Elantris mereka akan diserang oleh elantrian lain untuk merebut makanan yang mereka bawa. Tak jarang hingga melukai, dan luka itu tak akan pernah membaik. Elantrian akan menderita selamanya. Merasakan sakit berkepanjangan. Hingga akal sehat mereka hilang, lalu berubah menjadi hoed. Hoed ini seperti orang gila, mereka terus bergumam hal yang sama tanpa bisa berbuat apa-apa.

Ketika Raoden tiba di Elantris, lalu dikejar oleh Elantrian lain. Ia bertemu dengan Galladon, orang dari negara Duladel yang sudah lebih dulu masuk Elantris. Orang yang nantinya menjadi sahabat baik Raoden.

Kedatangan Putri dari Negara Toed

Putri Sarene, datang lebih cepat dari tanggal yang telah ditentukan. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan calon suaminya. Sebelumnya mereka hanya bisa berkomunikasi melalui Seon (bola sihir melayang yang memiliki jiwa dan bisa digunakan untuk berkomunikasi, bola sihir ini sangat setia, dan tidak semua orang memiliki Seon).

Dari komunikasi yang mereka bangun, Sarene tahu jika Raoden adalah pria cerdas dan baik. Mengingat sebelumnya mereka tak pernah sekalipun bertemu, membuat Sarene begitu penasaran.

Sarene adalah perempuan yang cerdas, dia adalah sosok yang menjunjung tinggi feminis. Suka berpolitik, bermain anggar, hingga laki-laki di negaranya jeri untuk mendekatinya. Hanya Raoden lelaki yang mampu mengimbangi kecerdasannya. Sayangnya ketika Sarene tiba, ia dihantam berita yang sangat mengejutkan. Raoden telah tiada.

Kemalangan Sarene tak hanya sampai di situ, dalam perjanjian pernikahannya dengan pangeran, apabila Raoden telah tiada, Sarene tidak diijinkan untuk menikah lagi dengan orang lain.

Insting Sarena merasakan ada hal yang tidak beres, mengingat Raja Iadon adalah Raja yang tidak kompeten. Sarene terus menyelidiki tentang kematian Pangeran Raoden. Pangeran yang dicintai rakyatnya, melebihi rakyat mencintai rajanya.

Berlabuhnya Gyorn Hrathen di Arelon

Tak lama setelah kedatangan Sarene, seorang pendeta Derethi pun menginjakkan kakinya di Arelon.

Mayoritas rakyat Arelon adalah penganut agama Shu Khorat dengan tuhan yang bernama Domi. Lalu tujuan Hrethen datang ke Arelon adalah ingin agar semua rakyat Arelon menganut Shu-Dereth, dengan tuhan bernama Jeddeth.

Hrathen ingin menyelamatkan rakyat Arelon dari kekafiran. Misinya untuk menyadarkan mereka semua. Belajar dari kasus lalu, ketika dia menginvasi Duladel hingga terjadi pertumpahan darah dengan korban ribuan jiwa, Hrathen kali ini ingin menempuh cara yang aman. Dengan menciptakan raja baru yang menganut Shu-Dereth. Lalu membuat hukum-hukum yang akan menguntungkan agama dan negara asalnya Fjorden.

Untuk melakukan itu semua, Hrathen hanya diberi waktu 3 bulan oleh Wyrn (imam tinggi Shu-Dereth). Jika tidak, Arelon akan ditundukkan dengan paksa yang berarti akan banyak korban jiwa seperti sebelumnya. Dan Hrathen tidak ingin hal itu terjadi lagi. Sebisa mungkin, ia berusaha agar semua penduduk segera sadar dan menganut Shu-Dereth dengan sukarela.

Baca juga: [Book Review] Tentang Kamu Karya Tere Liye

Review Elantris Karya Brandon Sanderson

Aaaaaa… Paan sih? Haha

Oke, aku memang jatuh cinta dengan novel ini. Gila… Gila… Gila… Keren banget!

Awal membaca memang alurnya terkesan lambat, tapi typical novel terjemahan, penulis luar itu demen banget membangun plot yang begitu detail. Menggambarkan setting yang dipikirkan dengan matang. Menciptakan dunia fantasi dengan sistem pemerintahannya, sihir dengan bentuk-bentuk dan artinya, nama negara yang keren-keren, hingga jalan cerita yang penuh dengan intrik politik.

Jadi kalau boleh aku bilang, novel ini lebih banyak politik, fantasi, dan feminisnya.

Novel ini diceritakan dari sudut pandang orang ke-3. Yaitu Raoden, Sarene, dan Hrathen.

Karakter Putri Sarene yang begitu kuat, menerobos kelompok bangsawan yang dulunya dipimpin oleh Raoden, dan Sarene masuk lalu mengambil alih. Pemikiran-pemikirannya yang out of the box. Keberaniannya yang tak kenal takut.

Tidak semua laki-laki menginginkan istri yang bodoh—tapi juga tidak banyak laki-laki yang merasa nyaman saat berada di dekat perempuan yang mereka anggap lebih pintar. – Sarene

Sarene ini tipe perempuan yang logikanya lebih dulu jalan ketimbang perasaannya. Bahkan ketika tahu calon suaminya meninggal pun, ia tak berlarut-larut dalam kesedihan tapi malah bergerak menyelidiki apa yang menurutnya nggak beres dengan kematian Raoden.

Saking teguh pendiriannya, ujian seberat apa pun Sarene lakukan untuk mempertahankan Arelon dari invasi Shu-Dereth.

Ternyata karakternya yang kuat, Sarene dapat dari hasil didikan ayahnya yang juga merupakan raja di negara Toed.

Sarene menenangkan diri—kekerasan tidak dapat mengalahkan Eventeo. “Ayah,” katanya dengan penuh kasih sayang dan rasa hormat, “Ayah mengajariku untuk berani. Ayah menjadikanku lebih kuat daripada orang biasa. Kadang-kadang aku merutukimu, tapi aku lebih sering bersyukur atas apa yang Ayah lakukan. Ayah membebaskanku untuk menjadi diri sendiri. Apakah Ayah akan menyangkal semua itu dengan merenggut hakku untuk memilih?”

Ayah Sarene terdiam.

“Pelajaran yang Ayah berikan tidak akan sempurna sebelum Ayah melepaskanku,” ujar Sarene pelan. “Kalau Ayah benar-benar meyakini idealisme yang Ayah ajarkan kepadaku, Ayah pasti menghormati pilihanku.”

“Aku mengerti,” kata ayah Sarene akhirnya sambil mendesah panjang. “Hidupmu milikmu, Sarene. Aku selalu memercayai itu—meskipun kadang-kadang aku lupa.”

“Ayah menyayangiku. Kita melindungi apa-apa yang kita sayangi.”

“Aku memang menyayangimu,” kata Eventelo. “Jangan lupa itu, Putriku.”

Sarene tersenyum. “Tak akan pernah.”

Percakapan Sarene dengan ayahnya di atas benar-benar bikin hatiku bergetar. Sebagai orangtua, memang paling berat melepas anaknya, walau itu pilihan mereka, tapi ketika orangtua tahu jika pilihan yang diambilnya bukan jalan mudah, pasti, akan terasa sangat sulit. Bagi orangtua, anak adalah segalanya.

Tapi seberat apa pun, hidup anak adalah hak mereka. Orangtua nggak seharusnya mengekang atau memaksakan keinginan mereka kepada anaknya.

Lalu, Raoden ini adalah pangeran yang cerdik dan sangat optimistis. Ketika dia dibuang ke Elantris lalu melihat kondisi kota itu yang sangat menyedihkan. Raoden ingin mengubah kota itu. Kota kematian dimana semua orang memiliki harapan.

Galladon tampak cemas sekali. “Sule, memangnya kita perlu menambah jumlah kita? Kau ingin membuat geng baru? Memangnya tiga kepala gerombolan perampok tidak cukup?”

Raoden berhenti dan memandang orang Duladel berbadan besar itu dengan penuh perhatian. “Galladon, kau pikir itu yang kulakukan?”

“Entahlah, Sule.”

“Aku tidak menginginkan kekuasaan, Galladon,” ujar Raoden tegas. “Aku memikirkan kehidupan. Bukan sekadar bertahan hidup, Galladon, tapi kehidupan. Orang-orang ini mati karena mereka menyerah, bukan karena jantung mereka tidak lagi berdetak. Aku akan mengubah itu.”

Sule ini bukan nama, ya. Tapi panggilan orang Duladel yang berarti teman. Ya, kayak logat orang Duladel kalau ngomong gitu.

Aku juga banyak mendapatkan ilmu leadership ini dari Raoden.

“Orang-orang baru ini, Sule. Kau membuat orang-orang ini berpikir mereka mengemban tugas penting, seperti Mareshe. Sepatu memang bagus, tapi bukan masalah hidup dan mati.”

Raoden mengangkat bahu. “Orang bekerja dengan lebih baik kalau merasa diri mereka penting.”

Keren, sesederhana itu. Dalam kehidupan kita, hal ini bisa diterapkan dengan menghargai pekerja dan nggak merendahkan mereka.

“Tapi ini masalah penting. Orang yang hidup dalam kekotoran akan merasa seperti kotoran—kalau kita ingin mengubah pandangan kita terhadap diri sendiri, kita harus bersih. Apakah kau sanggup melakukannya?”

Raoden juga berpikiran mengubah lingkungan menjadi lebih bersih akan berpengaruh besar pada mereka.

Kahar,” panggil Raoden.

“Ya, My Lord?”

“Apakah kau sudah tahu? Rahasianya, maksudku?”

Kahar tersenyum. “Sudah berhari-hari aku tidak merasa lapar, My Lord. Ini perasaan paling luar biasa—aku bahkan tidak merasa sakit lagi.”

Raoden mengangguk dan Kahar pun pergi. Lelaki tua itu datang demi mendapatkan solusi ajaib untuk nasib malangnya, tapi jawaban yang didapatkannya ternyata begitu sederhana. Rasa sakit lenyap saat ada hal lain yang jauh lebih penting. Kahar tidak membutuhkan ramuan atau Aon supaya selamat—dia hanya memerlukan sesuatu untuk dikerjakan.

Dari percakapan di atas, pasti sudah bisa menyimpulkan seperti apa kepribadian Raoden. Sang putra mahkota yang lebih dicintai rakyat ketimbang Sang Raja.

Kalau Hrathen, jujur nggak begitu menyukai sosok ini. Tapi perannya memang sangat penting dalam cerita. Tokoh antagonis sekaligus tipe yang pembaca akan merasa bersalah kalau membencinya.

Cover versi Indonesia yang eye catching

Elantris by Brandon Sanderson

Yup! Aku membaca novel ini di iPusnas.

Format filenya baru, tapi aku ada tips buat kamu yang kesulitan membaca format yang ini.

Setelah tahu triknya, ternyata malah enak baca format baru ini ketimbang file pdf biasa. Kalau format ini lebih mirip baca di Google Play Book. Tipsnya:

  1. Karena file ini nggak bisa dibookmark, kamu bisa menyiasatinya dengan highlight kata atau tulisan sebagai penanda. Ketika tulisan tersebut di klik langsung muncul di halaman tulisan tersebut berada kok.
  2. Ukuran font bisa diatur sesuai dengan keinginan. Kalau format pdf kemarin bisanya dizoom, kalau ini kita bisa mengaturnya.
  3. Background tulisan bisa diubah warna, jadi mata lebih nyaman.

Itu beberapa tips dari aku, maaf nggak ada contoh screenshotnya karena memang di iPusnas kalau sudah buka file nggak akan bisa discreenshot.

Mungkin nanti aku akan bikin tutorial lengkapnya di blog ini.

Oh, iya. Balik lagi ke pembahasan cover, menurutku cover versi Indonesia lebih eye catching ketimbang versi aslinya sih. Kalau versi asli lebih kayak novel sejarah, kalau yang ini, keliatan banget fantasinya.

Detail Buku

  • Judul: Elantris
  • Penulis: Brandon Sanderson
  • Penerjemah: Nur Aini
  • Penyunting: Esti Budihapsari
  • Proofreader: Emi Kusmiati
  • Penerbit: PT Mizan Pustaka
  • ISBN: 978-979-433-854-4
  • Tahun terbit: Maret 2015

Jadi, rating dari aku 5/5. Sempurna! Semoga buku ke-2nya segera terbit. Aku merekomendasikan novel ini buat kamu yang suka fantasi, politik, feminisme.

Beneran worth to read bangeeettt!

Salam,

Ning!

39 pemikiran pada “[Book Review] Elantris Karya Brandon Sanderson”

  1. Baca lewat ipusnas ya? Aku mau baca dari aplikasi itu belum kesampaian. Haha. kan lumayan gratis.

    Mba punya akun goodreads? Temenan yuk sama aku .hehe

    Balas
  2. Saya termasuk suka genre fantasi apalagi dipenuhi sihir. Terasa sangat magical setiap kali membaca alur dan deskripsi peristiwa yang terjadi. Pas baca kebayang sih bagaimana estetiknya kalau elantris ini bisa dialihwahanakan ke media audio visual.

    Balas
  3. Wahh baru baca sinopsisnya aja bikin penasaran nih mba. Ini buku yg aku pengen banget baca sampai skrg mba. Aku tuh paling suka dengan bacaan fantasi kaya gini, hehehe

    Balas
  4. Jenis novel fantasi tapi alur ceritanya dinamis banget ya. Saya tuh jarang banget baca novel via daring seperti ini kak. Tapi lihat ulasan ini ajdi pingin ngepoin juga. hehehe

    Balas
  5. Novel yang seru nih, sampai dikasih rating 5/5, perfect. Novel-novel fantasi dan terjemahan biasanya membawa kita ‘melayang’ dan masuk ke dalam dunia novelnya.

    Balas
  6. Saya kadang mikir, bagaimana para penulis bisa mendapatkan dan menempatkan dengan tepat kalimat-kalimat ajaib yang mampu menggugah para pembacanya.
    Ini adalah kejeniusan seorang peunulis

    Balas
  7. Aku cukup tertarik dengan kisah bertema fantasi gini, yups setuju novel terjemahan tuh kerap kali detail sekali menggambarkan suatu setting dan situasi yang bisa membawa pembaca berimajinasi.
    Untuk novel Elantris ini apik banget, kesimpulan dari ceritanya bikin penasaran. Apakah para warga Elantris bisa lepas dari kutukan dan apakan pangeran bisa kembali seperti sedia kala.

    Balas
  8. Duh, baru mulai baca sinopsisnya aja aku sudah seperti tersihir..
    Rekomendasi banget sih ini novelnya kalau buat aku..ditambah ratingnya yang sempurna…wow!!
    Terimakasih reviewnya kak juga tips-tips membacanya…⭐⭐⭐⭐⭐

    Balas
  9. terakhir baca fiksi fantasi eragon , brisingr….dengan setting dan plot yang sangat detil…lelaahh bacanaya hahhhaa, tapi wortid banget.

    masukin Elantris ke list ah, ratingnya ajiibbbb….makasih reviewnya beb

    Balas
  10. Yah ampun saya sebenarnya bukan pecinta bacaan bahkan film-film bergenre fantasi begini. Tapi kok liat nilai-nilai yang dishare, ternyata menarik juga. Thank you mba, d bikin penasaran nih. Hehehe

    Balas
  11. Ya ampun review-nya beneran bagus. Aku jadi kepengen bca. Sempat degdegan pikiran harganya yang sepertinya mahal, dan langsung bersyukur pas tau bacanya di aplikasi. Thank you for sharing kak

    Balas
  12. Baca sinopsis buku ini mengingatkan pada drakor Artdhal Cronicles… 🙈🙊
    Sarene yang Clara baca disini terbayang hampir mirip dengan Teara…
    (Mungkin efek kangen sama season 2 drakor tersebut 😆)

    Dapet bintang 5 berarti keren banget dong yah… mantap bgt nieh buku…

    Balas
  13. Hebat memang fiksi penulis luar yah… Tapi mungkin gak semua penulis luar begitu, hanya penulis luar yang bukunya sampai terakses oleh kita saja. Menarik banget sinopsis panjang dari Ning

    Balas
  14. Wahhh jadi penasaran baca buku di ipusnas, apalagu katanya sekarang udah lebih enak dibaca ya. Apalagi untuk orang yg gak tahan lama2 baca dr hape
    …nicw sharing mba..

    Balas
  15. Sebagus itu kah hingga dapet 5/5, ning? Berarti bagus bgt, selevel lotr. Kalo baca novel fiksi fantasi masih berasa di dunia lotr saking sukanya sama novelnya tolkien.
    Ipusnas emang juara bgt sih. Walau suka nyebelin kalo ngantri buku. Lama bgt. Sampe ujungnya jd beli hehe

    Balas
  16. Wah, sama nih. Aku baca novel fantasi terakhir Harry Potter juga, itu pun cuma sampe yang kelima. Sisanya nggak sanggup baca. Dari ulasan ini, Elantris menarik juga alur ceritanya. Mungkin, kalo nanti mau baca novel fantasi, ini bakal jadi salah satu wishlist-ku. Thanks for the review, Ning!

    Balas
  17. Sebagai Potterhead, aku mesti baca Elantris ini…wah, sudah lama ga baca novel bergenre fantasi. Kalau rating bintang 5 keren banget pastinya.Banyak pesan moral tersisipkan juga ya seperti lewat kutipan dialog tokoh-tokohnya di artikel ini
    Buku dan review yang keren, Kak!

    Balas
  18. Elantris dari judulnya saja sudah menggambarkan bahwa buku ini fiksi. Entah mengapa saya selalu terpana dengan cara berpikir penulisnya yang bisa membuat karya seperti ini.

    Balas
  19. Pernah lihat buku ini berseliweran tapi ragu mau baca karena genrenya fantasi, tapi kok baca reviewnya kak ning kaya seru gitu ceritanya. Aku penasaran apakah Elantris bakalan kembali normal dan Elantrian bakalan sembuh

    Balas
  20. Buku yang menarik yaa kak ning.
    Dilihat dari dialognya, sepertinya bukunya sangat detail dan kompleks. Kata-kata yang dipilih cukup membuat pembaca berpikir sejenak. Bisa menyambungkan banyak kejadian menjadi satu cerita.

    Aku belum pernah baca atau dengar buku ini. Jarang baca terjemahan juga. Makasih untuk infonya kak.

    Balas
  21. Kalo menurut gw pribadi, novel ini juga cocok buat yang suka sama filsafat..
    Keliatan dari cuplikan-cuplikan dialog tokohnya tentang kebijaksanaan..
    Dialog favorit gw, ada di cuplikan yang terakhir, yang intinya ” rasa sakit lenyap saat ada hal lain yang jauh lebih penting “..
    Izin sedikit oot, entah kenapa gw ngrasa netizen yang suka komen julid ngga penting di medsos public figures sebagai orang yang “sakit”..
    Asumsi gw, mungkin mereka begitu krn ga ada hal penting / bermakna yang mereka lakuin di dalam hidup mereka..
    Balik lagi ke novel ini, novel ini kalo berdasarkan cuplikan dialog-dialog yang gw baca, bagus juga buat yg suka novel filsafat atau yang suka kontemplasi..

    Nice post!

    Balas
  22. Kalau Kak Ning kasih rating 5/5 untuk ‘Elantris’ nya Brandon Sanderson, it’s ini buku recommend banget untuk di baca nih. Dari 3 tokoh central : Raoden, Sarene, dan Hrathen, menurut Kak Ning mana yang paling ‘mewakili’ penasaran pembaca mengenai pesan yang ingin disampaikan sang penulis?

    Balas

Tinggalkan Balasan

error: Konten ini dilindungi oleh hak cipta!
%d blogger menyukai ini: