[Book Review] Maryam Karya Okky Madasari

Sudah lama sekali aku punya buku ini, tapi entah kenapa belum tergoda untuk membacanya. Nah, pas banget tema reading challenge bulan Maret ini adalah Buku Bertema Perempuan.

Awalnya bingung mau baca buku apa, akhirnya bongkar timbunan buku yang belum aku baca dan ketemulah dengan Maryam yang ditulis oleh Okky Madasari.

reading challenge maret

Baca juga: [Book Review] Corat-coret di Toilet Karya Eka Kurniawan

Sinopsis Maryam Karya Okky Madasari

Secara turun-temurun keluarga Maryam menganut Ahmadiyah, yang secara otomatis juga membuat Maryam menganut keyakinan tersebut. Ia dan keluarganya beribadah di tempat yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Tapi mereka tetap berhubungan baik dengan lingkungan dan tetangganya. Saling membantu dan gotong royong, semua hidup rukun berdampingan. Apalagi Ayah Maryam, Pak Khairudin termasuk orang terpandang di kampungnya.

Label sesat tentang ajaran yang dianut Maryam, sering membuatnya menangis sejak SD, tetapi keluarganya selalu menguatkannya agar imannya tak goyah.

Mereka tinggal di Gerupuk, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kemudian saat kuliah Maryam keluar dari Lombok, pergi ke Surabaya. Di sana pun ia ikut orang sesama ahmadi yang dipercaya oleh orangtuanya. Setiap minggu mengikuti pengajian sesama orang ahmadi Maryam bertemu dengan Gamal, sesama orang ahmadi yang juga berkuliah di Surabaya. Apalagi orang-orang juga merestui mereka, Terutama Pak Khairudin dan Bu Kharirudin telah menyimpan harap, yang paling penting jodoh untuk anak perempuan pertamanya itu adalah seiman.

Tapi harapan itu pupus, Gamal pergi ke Banten untuk penelitian skripsinya. Ketika pulang keyakinannya tak lagi sama, berkali-kali bentrok dengan keluarganya, hingga berakhir pergi entah ke mana.

Kepergian Gamal meninggalkan luka di hati Maryam, harapan yang sudah terlanjur dipupuk kemudian tumbuh tak terkendali. Lalu tiba-tiba orang itu pergi, hatinya seperti ikut tercerabut bersama Gamal. Meninggalkan luka, dengan lubang yang dalam.

Lulus kuliah Maryam bekerja di Jakarta, di sebuah bank swasta yang cukup ternama. Kali ini ia ngekost sendiri, walau orangtuanya menyarankan ia tinggal dengan keluarga Ahmadi yang ada di Jakarta juga. Tapi dengan alasan jarak tempuh tempat kerja yang terlampau jauh Maryam menolak dengan halus.

Kemudian Maryam bertemu dengan Alam, lelaki yang mirip dengan Gamal tetapi bukan Ahmadi. Hal tersebut tentu saja membuat orangtuanya tak merestui. Karena terlalu takut kehilangan cinta untuk kedua kali, kini Maryam nekat. Ia tinggalkan semuanya, keluarganya… keyakinannya…

Keluarga Maryam ini termasuk yang fanatik dan memegang teguh keyakinan dan imannya.

Pak Khairudin dan Bu Khairudin tak berani lagi menyimpan harapan apa-apa. Mereka berusaha mengikhlaskan semuanya, bersamaan seluruh rasa kecewa dan amarah. Maryam dianggap telah tidak ada. Tidak ada lagi yang menyebut namanya. Tidak ada lagi yang membicarakan tentang dia. “Maryam” telah menjadi kata yang harus dihindari, karena setiap hal tentang dia hanya mendatangkan kembali kesedihan dan kemarahan. Padahal hidup bukan hanya untuk Maryam. – hal. 102

Baca juga: [Book Review] Tentang Kamu Karya Tere Liye

Mengangkat tema kepercayaan Ahmadiyah

Tema utama dalam novel ini adalah Ahmadiyah, bukan ajarannya. tapi lebih ke orang-orang yang menganutnya.

Seperti yang kita tahu, Ahmadiyah adalah ajaran yang menyimpang dari Islam, sehingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) melabelinya sesat.

Di dalam buku dengan tema Ahmadiyah, tetapi nggak dijelaskan sekali pun Ahmadiyah itu apa, dan mengapa disebut sesat? Padahal hal tersebut adalah masalah utamanya.

Jadi di sini aku akan membahas sedikit saja tentang Ahmadiyah, agar kamu mengerti dan nggak buta banget. Karena pas baca buku ini, aku juga baru tau ada ajaran ini, dan keingintahuanku terjawab ketika browsing di internet.

Menurut Wikipedia, Ahmadiyah adalah sekte Islam yang terbentuk pada abad ke-19 oleh Mirza Ghulam Ahmad, orang India yang mengaku sebagai Imam Mahdi dan Al Masih yang ditunggu umat muslim.

Dan MUI juga pernah menjelaskan jika Ahmadiyah mengakui adanya Nabi lain setelah Nabi Muhammad saw. Jika ajaran tersebut nggak membawa nama islam, MUI nggak akan turut campur tapi faktanya Ahmadiya memang islam dengan kitab suci Al-Qur’an dan ibadah yang sama dengan umat muslim. Karena ajaran yang menyimpang tersebut umat islam nggak bisa mentolerir Ahmadiyah.

Aku juga masih ingat dalam pelajaran agama tentang akhir zaman, ketika islam porak poranda, akan datang penyelamat yaitu Imam Mahdi. Seperti yang tercantum dalam hadist berikut:

Diriwayatkan oleh Abu Sa’id al Khudri RA, Rasulullah SAW bersabda;

اَلْمَهْدِيُّ مِنِّي، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، أَقْنَى اْلأَنْفِ، يَمْلأُ اْلأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجُوْرًا، يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِيْنَ.

Artinya,
“Al-Mahdi dari keturunanku, dahinya lebar, hidungnya mancung. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana bumi telah dipenuhi dengan kezhaliman dan kelaliman sebelumnya. Dia akan berkuasa selama tujuh tahun.”

Nah, Mirza Ghulam Ahmad ini mengaku sebagai Imam Mahdi tersebut, dan penganut Ahmadi tentu meyakininya.

Baca juga: [Book Review] Di Tanah Lada Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Review Novel Maryam by Okky Madasari

Cerita ini dibuat berdasarkan kisah nyata yang benar-benar terjadi di Tanah Air kita, terutama di Lombok. Bagaimana orang-orang Ahmadi terusir, kemudian mengalami kekerasan dari orang-orang di sekitar mereka yang melabeli mereka sesat.

Penulis mengangkat isu kemanusiaan di sini, karenanya informasi tentang Ahmadi dibuat kabur. Mereka dilabeli sesat, tapi tak jelas sesat seperti apa. Di sini aku yang kurang suka, padahal hal tersebut konflik utama walau sedikit seharusnya penulis menjelaskannya agar pembaca tak bingung, hingga mencari sendiri infonya di internet seperti aku, yang menurutku kurang efektif. Seharusnya ketika kita membaca sebuah buku atau kisah, duduk permasalahannya harus dijelaskan secara gamblang.

Pandangan kemanusiaan ini digambarkan oleh sosok Maryam, dia bukan Ahmadi lagi ketika telah memutuskan meninggalkan keluarganya demi Alam. Tapi pada akhirnya Maryam kembali pulang setelah bercerai, karena ia peduli dengan keluarganya dan bukan agama keluarganya.

Kisah romansa Maryam juga menjadi angin segar, kisah cinta menggebu yang dipilihnya hingga meninggalkan keluarganya menjadi pelajaran yang berharga dalam hidupnya.

Quotes Novel Maryam Karya Okky Mandasari

“Kak Maryam cinta dengan Kak Umar?” tanya Fatimah.

Maryam tak langsung menjawab. Ia memandang lurus ke langit-langit. Memutar-mutar pandangannya agak lama, mencari jawaban pertanyaan Fatimah.

“Pernikahan Kakak yang kemarin mengajarkan bahwa cinta itu ternyata hanya khayalan kita.”

“Maksudnya?”

“Ya… Maksudnya… apakah kita mencintai seseorang atau tidak itu tergantung pada pikiran kita. Dulu Kakak berpikir mencintai Alam. Tapi kemudian pikiran itu berubah. Dan cinta itu tak ada lagi.” – hal. 159-160

“Biarlah anak ini jauh dari agama tapi dekat dengan kabaikan,” kata Maryam berulang kali. Umar mengiyakan. Dalam soal iman, ia selalu sepaham dengan Maryam. Semua yang mereka lakukan selama ini adalah bentuk cinta pada keluarga dan orang-orang yang teraniaya. Bukan untuk iman keluarga. – hal. 241

Detail Buku Maryam

Novel Maryam
sumber gambar: goodreads

Judul buku: Maryam
Penulis: Okky Madasari
Peneribit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-8009-8
Cetakan ketiga April 2016
280 Halaman

Ada gambar seorang wanita tanpa busana dengan ekspresi sendu dan penuh harap di sampul bukunya. Aku tebak perempuan tersebut adalah Maryam. Dan rumah yang sedang dipegangnya adalah simbol dari rumah-rumah milik anggota Ahmadiyah yang hilang, dan hingga kini masih ada ratusan pengungsi di Transito, Lombok.

Setelah membaca buku ini, ada rasa sedih yang terus bercokol. Memikirkan ratusan orang hidup belasan tahun di pengungsian tanpa kejelasan.

Ini menurut opini dan pandangan pribadiku aja ya, setiap orang memiliki keyakinan masing-masing. Apalagi di negara kita ini juga ada banyak agama. Kenapa kata toleransi nggak mampu kita lakukan untuk mereka yang berbeda?

Ada satu kata yang aku pegang teguh ketika bertemu atau berteman dengan orang yang memiliki keyakinan yang berbeda,

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” Q.S Al-Kafirun: 6

Kita bisa berteman dan berhubungan baik tapi nggak saling mencampuri keyakinan masing-masing. Karena menurutku agama adalah penghunung antara manusia dengan Tuhan. Bukan manusia yang bebas menghakimi seenaknya, apalagi melakukan kekerasan atas dasar agama.

Sebagai contoh saja, sekarang ini aku hidup di kampung. Semua orangnya juga islam, tetapi orang-orang tua masih memegang teguh budaya lama seperti menyiapkan sesaji pada hari-hari tertentu. Jika menilik dalam ajaran islam, hal tersebut merupakan perbuatan syirik, salah satu dosa besar yang nggak akan diampuni. Tapi aku membiarkan saja, karena apa? Karena sebelumnya aku sudah pernah menasehati tetapi nggak bisa.

Jadi aku memutuskan untuk menjalani apa yang aku yakini, tanpa mencampuri keyakinan orang lain. Yang penting aku sudah mengingatkan secara baik-baik. Dan itu bagiku cukup.

Oh iya, ada satu hal yang aku kurang suka dalam buku ini yaitu pemaparan penulis di sini terlalu memihak dengan menggambarkan jika orang islam itu semua anarkis, padahal nggak semua seperti itu banyak kok orang muslim yang nggak judgemental. Jadi seharusnya penokohannya dibuat lebih variatif agar yang membaca juga nggak menganggap jika islam itu keras dan menyelesaikan permasalahan dengan kekerasan.

Buktinya kami yang hidup di desa, dengan berbagai keyakinan tetap bisa rukun dan saling mengerti.

Rasul kami Nabi Muhammad saw, adalah orang yang lembut. Beliau dilempari batu pun tak membalas. Ketika perang pecah pun bukan Rasul yang memulai, beliau terpaksa berperang sebagai bentuk pembelaan.

Sebagai muslim, aku ingin semua orang tahu, jika islam adalah agama yang cinta damai.

Salam sayang,
Ning!

16 pemikiran pada “[Book Review] Maryam Karya Okky Madasari”

  1. Mba niiiing aku sukaaa banget review-nya 😍😍. Fair enough lah untuk menjelaskan apa itu Ahmadiyah.

    Tadi aku LGS cari dari ipusnas, dan ternyata buku ini ada. LGS download buat baca.

    Aku punya temen Ahmadiyah dulu. Kalo skr dia udh pindah keyakinan ke Budha 😅. Tapi masih inget banget zaman2 dia masih Ahmadiyah, dia pernah curhat kenapa mereka dimusuhin. Padahal kan sesama Islam, kitab suci yg dipake juga masih Alquran. Kalo ada beda dikit di aliran, trus kenapa aliran Islam lain yg banyak tersebar juga ga dipermasalahkan. Ada Sunni, Syiah, blm ajaran NU, Muhammadiyah dll.

    Jujur aku ga bisa jawab. Cuma bisa menghibur dan dengerin curhatnya. Buatku juga smaa mba, bagimu agamamu, bagiku agamaku. Toleransi kuncinya. Kenapa harus diperdebatkan. Dan bener bgt, ajaran Islam yg msh banyak mempraktikkan hal2 kejawen aja masih bisa dibiarin. Mencuci keris dll, apa itu ada dlm Islam.

    Kadang aku bingung, kok susah sekali mereka itu menyambut perbedaan 🙁

    Balas
  2. Bisa jadi detail tentang Ahmadiyahnya nggak disebutkan karena alasan sensor mungkin ya, karena pasti dikhawatirkan bukunya jadi dianggap menyebarkan atau mendukung atau lainnya. Padahal penulisnya cuma mau cerita tentang orang-orang didalam Ahmadiyah itu kak.

    Cuma jadinya ya pembaca taunya Ahmadiyah itu sesat. Titik. Tanpa tau kenapa dan apa alasannya.

    Balas
  3. aku sepakat kalo dalam novel mengangkat ahmadiyah tapi ahmadiyahnya gak dibahas jadi ada yang kurang ya, tapi mungkinpenulis memang lebih ke pergelutan perasaan si maryam kali ya

    Balas
  4. menurut saya, keyakinan adalah urusan pribadi seseorang dengan tuhannya, jadi bukan urusan kita untuk mencampurinya. Kalo ingin berteman, bertemanlah secara pribadi tanpa melihat ia agamanya apa, imho

    Balas
  5. Okky Maddasari emang penulis yang selalu menggigit ya cerita-ceritanya. Novel ini based on true story, auto mikir pasti riset mendalam nya effort banget nih, dan ternyata Ahmadiyah pun sempat dilabeli sebagai aliran sesat yaa 🙁

    Balas
  6. Mungkin penulisnya tidak ingin menggambarkan kesesatannya itu seperti apa, karena lebih ingin mengangkat kisah Maryam nya aja.

    Balas
  7. Bener kak. Biarkan mereka beribadah sesuai iman mereka sepanjang itu tidak mengganggu keimanan kita. Butuh kedewasaan iman dan keberanian untuk bisa berpikiran seperti ini sih

    Balas
  8. Yes aku sependapat nih kak. Kalau kita bisa berteman dan berhubungan baik dgn semua orang tapi tidak perlu mencampuri keyakinan. Di sini dapt belajar bgaimana kta menghargai perbedaan itu

    Balas
  9. Betul mba, seharusnya penulis menjelaskan sesatnya itu seperti apa.

    Atau mungkin si penulis ingin main aman, karena dia hanya ingin membuat novel. Kalau dia menulis sesuatu tentang ajaran Ahmadiyah yang menyimpang, dikhawatirkan ada pihak yang tidak berkenan.

    Balas
  10. Wah sepertinya background penulis memang ada ketidaksukaan dengan Islam kah? Mungkin tidak dipaparkan tentang Ahmadi karena takut memberi pengaruh. Agak sensitif memang tema ini

    Balas

Tinggalkan komentar