Artikel

Caraku Untuk Bahagia

Menurut KBBI, Bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala hal yang menyusahkan).

Dan semua orang pasti ingin bahagia. Mungkin bagi sebagian orang bahagia adalah tujuan hidup mereka. Misalnya melakukan hal yang terbaik saat ini untuk kebahagiaan di masa depan.

Walau ingin, nggak semua orang bisa bahagia setiap hari. Ada saja masalah yang singgah. Memporak-porandakan kebahagiaan yang tak lagi utuh.

Tapi, pilihan itu ada di tangan kita sendiri. Apakah kita akan terus berkubang dalam ketidakbahagiaan atau berusaha untuk terus bahagia.

Dan ini adalah caraku untuk bahagia.

Menjauh dari orang yang toxic

Ini bukan soal memilih-milih teman. Tapi soal kebahagiaan diri sendiri. Terkadang aku memang bertemu dengan orang yang toxic.

Seperti apa sih orang toxic itu? Misalnya orang yang terus berkomentar tentang hidup kita harus begini, atau harus begitu. Sering melecehkan dengan kata-kata atau sikap, hanya mementingkan dirinya sendiri hingga menyakiti orang lain. Yang pasti, orang yang toxic akan membuat nggak nyaman. Membuat gelisah, bikin kepikiran, atau kadang malah bisa membuat mental down.

Lingkungan dimana aku berada juga akan mempengaruhi diriku, cara berpikir, hingga bisa mempengaruhi kebiasaan.

Bahkan ada hadist yang mengatakan:

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Yang dimaksud orang jelek di sini, bukan orang jelek secara fisik, tapi lebih ke perbuatannya ya.

Artikel Terkait:  Digital Marketing, Solusi Ampuh Bertahan di Era Pandemi Covid 19

Permisalan sederhana saja, ketika kita berteman dengan orang yang hemat, kita pasti juga akan termotivasi untuk hemat juga. Sebaliknya, ketika kita berteman dengan orang yang boros, pasti kita juga akan tertular borosnya. Biasanya teman kita akan mengompori untuk seperti dirinya.

Me time

Me time itu perlu sekali. Melepas penat sejenak untuk refresh pikiran yang sudah overload. Soalnya kalau enggak, yang ada rasanya bad mood terus. Jadi ketika lagi suntuk, ya sebisa mungkin nyuri waktu buat me time. Walau hanya sekadar menyeruput secangkir kopi kemasan. Itu sudah lebih dari cukup.

Melakukan kegiatan yang disukai

Aku suka baca buku, suka nulis, suka nonton film, suka drama korea, suka anime, dan masih banyak lagi. Haha …

Yapz! Aku memang suka banyak hal. Jadi setiap ada hal yang nggak membahagiakan, aku memiliki banyak hal untuk dilakukan. Jadinya memang aku jarang merasa nggak bahagia.

Aku juga suka melihat anakku, Rhea, tertawa. Jadinya nggak bosan-bosannya godain dan bercandain dia. Tawa Rhe itu candu banget. Ini sih mood booster paling ajaib. Yang tadinya marah banget, terus Rhe ketawa, seketika marahku langsung lenyap. Nggak berbekas. Bersih. Yang ada hanya rasa senang. Ibu sayang kamu Rhe.

Hargai dan cintai diri sendiri

Terkadang, orang lupa untuk memperhatikan dirinya sendiri karena terlalu sibuk. Sibuk dengan pekerjaan, keluarga, teman-teman. Padahal kita juga perlu waktu untuk sendiri atau sekadar merenung.

Terkadang, orang juga lebih sering menyalahkan diri sendiri ketika gagal. Padahal untuk mau mencobanya saja, kamu sudah luar biasa.

Terkadang, tanpa sadar kita tidak memberi maaf pada diri sendiri. Nggak papa, semua baik-baik saja. Kita hanya perlu berdamai.

Artikel Terkait:  Si Doel, Saksi Nyata Jakarta Tempo Dulu

Mencintai diri sendiri itu kelihatannya sederhana, tapi bisa rumit bagi beberapa orang. Memaafkan diri sendiri dan menerima dengan ikhlas, adalah hal yang membuatku bahagia.

Yang nggak kalah penting dari mencintai, adalah menghargai. Sebagai manusia kamu nggak boleh merendahkan diri kamu hanya karena pendidikan yang nggak tinggi, bukan orang kaya, nggak pintar, dan hal lain yang kamu secara tanpa sadar merendahkan diri sendiri.

Orang lain boleh lebih dari apa pun dibandingkan kamu. Tapi, kamu tetaplah spesial. Kamu tetaplah berharga. Berharga untuk kamu sendiri, dan orang-orang yang menyayangimu.

Bersyukur

Ada peribahasa yang bilang, jika rumput tetangga terlihat lebih hijau. Atau mungkin, ada yang suka berpikiran,

“Enak ya jadi dia bla … Bla … bla …”

Untuk bersyukur jangan hanya melihat ke atas. Melihat orang yang terlihat lebih beruntung dari kita, lalu melabeli diri sendiri bernasib sial atau buruk.

Lihatlah ke bawah, bagaimana masih banyak negara yang sedang berseteru, hingga warganya tak punya tempat tinggal. Jangankan tidur dengan nyaman dan nyenyak, untuk makan pun mereka kesulitan. Beruntunglah kita yang tinggal di Indonesia, walau masih negara berkembang tapi kita bisa hidup dengan nyaman. Bisa tidur di kasur yang empuk, tak kekurangan makanan, dan bisa menikmati pendidikan yang layak.

Yang patut disyukuri bagiku nggak hanya materi. Badan yang sehat, bisa bersua hingga bersenda gurau dengan keluarga, anak yang normal dan sehat, dan bisa makan dengan layak meski sederhana, bisa beribadah dengan bebas, adalah hal yang paling aku syukuri.

Biasanya aku selalu bilang sama diri sendiri, “bersyukurlah dengan apa yang kamu punya, bukan malah mendamba apa yang orang lain miliki.”

Artikel Terkait:  Isra Mi’Raj: Kembali Mengingat Arti Shalat

Itu adalah caraku untuk bahagia. Dan alhamdulillah, aku selalu bahagia. Semoga, kamu juga bahagia ya 🙂

Salam sayang,

Ning!