Parenting

Membaca Menyenangkan Sejak Usia Dini, Let’s Read!

Menjadi anak korban broken home. Membuat aku di masa kecil melarikan diri pada buku. Tenggelam dalam setiap kisahnya, mengarungi berbagai petualangan, merasakan berbagai emosi, tanpa sadar menumbuhkan empati.

Bisa dibilang, masa kecilku tidak sebahagia anak yang lain. Hanya memiliki Ibu, dan dirawat oleh nenek yang juga merawat lima cucunya yang lain. Saat itu, aku adalah cucu nenekku yang paling muda. Terbiasa dijahili dan dimanfaatkan oleh saudara tang lain, terkadang juga disayang oleh mereka. Tapi, dalam ingatanku, lebih banyak dijahili dan bertengkarnya, haha

Maka sewaktu SD, saat huruf mampu terbaca sebagai kata, aku sangat terpesona. Apalagi ketika sebuah petualangan mampu kuarungi hanya dengan membaca kata demi kata. Di dalam berlembar-lembar kertas yang biasa orang sebut buku.

Sejak saat itu, membaca adalah rutinitas baru. Aku yang masih kelas 2 SD ketagihan dengan bebagai rasa, emosi, dan dampak yang kurasakan ketika asyik membaca. Mungkin karena membaca, semua emosi negatif semasa kecil mampu terobati dan teralihkan. Dan sekarang, ketika mengenangnya tidak tersisa rasa sakit, yang ada hanya kenangan masa lalu yang jika diceritakan bikin ketawa.

Hingga kini, aku masih menyukai buku. Karenanya ingin sekali memperkenalkan buku pada anakku. Agar dia juga merasakan, bagaimana ajaibnya membaca. Bagaimana kita bisa berpetualang dalam berbagai kisah. Bagaimana dengan tanpa sadar kita belajar. Dan bagaimana buku mampu membuka banyak jendela yang ingin diarungi.

MEMPERKENALKAN BUKU PADA ANAK SEJAK DINI

Lalu, kapan saat yang tepat kita memperkenalkan buku pada anak? Jawabannya sedini mungkin. Sejak di dalam kandungan pun, aku sudah rajin membacakan buku untuk janinku. Dokter bilang, bisa untuk melatih pendengaran janin dan akan lebih mengenali suara ibunya.

Dan ketika Rhe lahir, secara berkala aku juga membacakan beberapa dongeng untuknya. Hingga usianya 6 bulan, aku benar – benar membelikan sebuah buku kain untuknya. Kenapa buku kain? Selain lebih higienis karena bisa dicuci, buku kain juga nggak gampang sobek.

Cara Menumbuhkan Minat Baca Pada Anak Sejak Dini

1. Pilih buku sesuai usia dan aman

Banyak sekali macam buku. Dan tentunya, buku untuk anak berbeda dengan buku untuk orang dewasa. Seperti contoh, buku untuk bayi 3 bulan sebaiknya didominasi gambar yang berwarna hitam putih. Karena bayi usia 3 bulan hanya mampu melihat warna hitam dan putih. Atau biasanya di sampul buku akan tertera label, untuk anak usia berapa buku tersebut diperuntukkan.

Artikel Terkait:  Trigger Finger di Jari Rhe yang Berusia 9 Bulan

Selain itu, anak – anak belum mengerti bahaya, terutama bayi yang masih suka memasukkan benda apa saja ke dalam mulut, suka mengeksplorasi benda dengan meraba, bahkan meremas. Tentunya kita sebagai orang tua tidak ingin bayi kita terluka saat membaca buku. Pilihlah buku dengan ujung yang tumpul, boardbook, atau buku kain. Selain tidak melukai, buku – buku tersebut juga tidak mudah rusak.

2. Banyak gambar dan warna yang mencolok

Saat belum bisa membaca, pilihlah buku dengan gambar – gambar yang lucu dan dengan warna yang mencolok. Untuk menarik perhatian anak.

3. Kenalkan berbagai macam buku

Banyak sekali jenis buku anak yang patut dicoba untuk dikenalkan pada si kecil. Seperti buku touch and feel, selain gambar dan cerita yang seru, anak juga bisa meraba tekstur buku. Noisy book yang ada suara-suara hewan, lagu-lagu anak, suara alam. Dengan noisy book, bercerita akan jadi lebih menyenangkan karena ada efek suara. Pop up book, ketika di buka buku akan muncul ke permukaan membentuk 3D, biasanya si kecil akan sangat tertarik dengan buku ini. Tapi hati-hati, pop up book juga mudah rusak. Dan masih banyak jenis buku anak yang dijamin nggak bikin anak bosan.

4. Kenalkan buku sejak dini, tidak hanya dibaca, biarkan anak memainkannya

Rhe aku kasih buku sejak usianya 6 bulan. Buku pertamanya adalah buku kain. Awalnya bukunya hanya dimainin aja. Diremas-remas, digoyang-goyang, kadang juga digigit. Tapi lama-lama dia tertarik juga sama gambarnya. Jadi secara rutin dan sabar aku bacakan cerita untuknya. Kadang halaman yang dibaca juga nggak urut, aku baca halaman yang Rhe buka aja. Soalnya kalau dipaksa urut dia jadi kesal, haha

6. Membacakan dengan suara yang lucu, dan menyenangkan, juga improvisasi

Ketika membacakan untuk Rhe, aku suka membuat suara yang berbeda pada setiap tokohnya. Dan juga mempraktekan suara hewan jika di dalam buku tersebut ada hewannya. Pokoknya terserah deh mau melenceng dari buku juga, yang penting bikin improvisasi biar anak tertarik dan ketagihan.

Alhamdulillah, triknya berhasil. Sampai sekarang nih ya, Rhe hafal lho buku-bukunya. Jadi ketika aku bacain sampai di halaman ketika Pak Pino, si Pak Guru Singa menyanyi, Rhe udah bilang, “jeng… Jeng… Uuuuu…” Duluan, haha…

Artikel Terkait:  Pengalaman Mengatasi Infeksi Jamur Mulut (Oral Trush) Pada Bayi 1 Tahun

7. Biarkan si kecil memilih bukunya sendiri

Setiap anak, pasti punya tokoh favoritnya. Entah itu karena gambarnya yang lucu, bagus, atau penyampaian narasi kita tentang tokoh tersebut. Jadi saat ingin membaca, biarkan si kecil memilih bukunya sendiri. Dengan begitu, dia akan lebih bersemangat ketika kita membacakannya.

8. Selain cerita inti, kenalkan berbagai objek yang ada di gambar buku

Ini aku lakuin sekalian untuk pengenalan nama benda juga. Selain, dapat cerita yang bagus, anak kita juga dapet bonus kosa kata baru seperti nama objek yang ada di buku. Alhamdulillah banget, Rhe mulai bisa ngomong di usia 11 bulan. Dan sekarang di usia dia yang 1 tahun 3 bulan, Rhe udah cerewet banget.

9. Selalu biarkan buku di lingkungan sekitar anak

Baiklah, sebenarnya ini karena aku orangnya memang berantakan. Jadi suka naruh barang sembarangan. Terutama buku, di kasur, di ruang depan, di tempat mainan Rhe ada aja buku yang nyelip. Dari situ, secara nggak langsung aku bilang ke Rhe, jika buku adalah hal biasa yang memang selalu ada untuk dibaca atau dimainkan.

10. Jangan memaksa

Ini sih yang paling penting menurutku. Jangan pernah memaksa anak. Karena sesuai dengan pengalamanku saat mengasuh Rhe, semakin dipaksa anak akan semakin anti. Semakin susah. Semakin nggak mau. Bisa jadi sampai trauma.

Sesuatu yang dipaksakan itu akan berakhir nggak bagus. Orang dewasa aja nggak suka dipaksa, apalagi anak-anak. Memperlakukan anak itu sebenarnya gampang-gampang susah. Perlakukan anakmu seperti kamu ingin diperlakukan. Karena dia masih kecil, bukan berarti dia nggak mudeng lho. Jangan salah, anak-anak itu memorinya kuat sekali. Pemahamannya cepat atau istilahnya cepat tanggap. Cuma, memang anak belum tau aturan, cara mengontrol emosi, dan menghadapi situasi tertentu.

Jadi, kalau sudah dilakukan berbagai macam upaya dan anak tetap nggak suka buku. Ya, it’s okay! Mungkin dia punya mainan favoritnya sendiri. Biarkan mereka memilih apa yang mereka suka.

Itu adalah cara yang aku gunakan untuk Rhe, agar dia juga menyukai buku. Alhamdulillah berhasil! Sampai kadang, aku capek suruh baca buku yang sama berulang-ulang, haha

Lalu, apa sih manfaat membaca buku untuk anak? Ternyata banyak juga lho manfaatnya.

Manfaat Membaca untuk Anak

1. Stimulasi bahasa dan meningkatkan kemampuam berkomunikasi

Artikel Terkait:  Perjuangan Melahirkan Normal, Nggak Semenakutkan Kata Orang

Dengan membaca, anak akan mengenal kata baru yang akan menambah kosakatanya. Dengan begitu, kemampuan berkomunikasinya pun ikut meningkat.

Rhe juga nggak bingung lagi, ketika lihat kelinci dalam gambar, di baju, di tv, dia tau kalau itu kelinci. Pasti dia bilang, “cici… Cucu…” Maksudnya adalah kelinci lucu. Haha… Sangat menggemaskan!

2. Bonding dengan orang tua dan pengenalan emosi

Membaca adalah waktuku dengan Rhe membangun kedekatan secara fisik, juga emosional. Setiap dia melihat buku kesukaannya pasti selalu mencariku dan bilang, “baca…” Dengan wajah yang excited. Dan ketika dibacakan, Rhe akan ikut berteriak, menggeram, dan tertawa. I know, she loves to read!

Kedekatan orangtua dan anak sangat bagus untuk tumbuh kembang anak. Terutama untuk mengelola emosinya.

3. Mengenal konsep sebab akibat

Rata-rata cerita atau dongeng anak selalu menyelipkan pesan tersirat, yang kaya akan pembelajaran sebab-akibat untuk anak. Dari kisah tersebut secara nggak langsung anak belajar konsekuensi dari perilaku negatif atau hal yang dilakukan akan mengakibatkan apa.

4. Membiarkan anak berimajinasi

Imajinasi, keajaiban otak kanan. Aku adalah orang yang sangat menyukai kinerja otak kanan. Tau kan, otak kanan itu otaknya orang-orang kreatif. Tempat dimana ide dan terobosan baru muncul.

Tapi, kalau untuk Rhe, aku pengin otak kanan dan kirinya nanti seimbang. Nah, salah satu cara untik menstimulasi kinerja otak kanan adalah dengan membacakan buku, agar anak juga terbiasa berimajinasi.

5. Sebagai sarana belajar yang menyenangkan

Belajar serasa bermain, belajar yang nggak berasa kayak belajar, belajar yang asyik, belajar yang menyenangkan. Itulah fungsi buku anak untukku dan Rhe. Misal, untuk belajar pengenalan angka, nggak melulu angka yang dipelototin. Tapi ada gambar-gambar dan permainan menyenangkan dalam buku. Jadi, tanpa sadar, Rhe sudah belajar.

Itulah hal-hal yang aku lakuin agar Rhe bisa membaca dengan menyenangkan, juga menyukai buku seperti aku. Tapi sekali lagi aku tekankan, tetap hormati keputusan anak ya. Misal dalam prosesnya ada penolakan dari anak, jangan memaksa. Anak mempunyai pilihan sendiri tentang hal-hal yang dia sukai. Ketika orangtuanya menyukai suatu hal, anak nggak harus menyukainya juga kan? Biarkan mereka menjadi diri sendiri dengan tidak memaksa untuk mengikuti kemauan orangtuanya.

Semoga, aku bisa jadi ibu terbaik buatmu ya Rhe.

Salam sayang,

Ning!