Movie Time

Mengenal Profesi Profiler Dari Criminal Minds

Di mata banyak orang khususnya kaum adam, mereka menilai jika Drakor (Drama Korea) adalah tontonan cengeng dan hanya cocok untuk kaum hawa, jika ada cowok yang suka Drakor, berarti mereka nggak gentle!

SALAH! Nggak semua drama korea itu mellow dan melulu tentang cinta-cintaan. Ada banyak sekali profesi yang diangkat, seperti perjuangan seorang koki, wartawan, penulis, detektif, jaksa, dan salah satunya yang akan aku bahas adalah Profiler. Salah satu profesi di kepolisian yang memanfaatkan ilmu psikologi forensik.

Salah satu aplikasi psikologi forensik adalah criminal profiling, dan yang melakukan criminal profiling disebut Profiler. Criminal profiling adalah suatu usaha ilmiah untuk menyediakan informasi khusus tentang tipe-tipe pelaku kejahatan tertentu, dan digunakan sebagai sketsa biografis pola perilaku dan kecenderungan munculnya perilaku tersebut. Informasi inilah yang akan menolong kepolisian untuk menangkap pelaku kejahatan. [sumber: klik di sini]

Berikut adalah contoh kasus untuk criminal profiling yang aku ambil dari episode ke-7 dan ke-8 dalam drama korea Criminal Minds.

PENEMBAKAN BERANTAI TERHADAP PENGEMUDI DI JALAN YANG TIDAK TERJANGKAU CCTV

Seorang wanita berambut pendek ditembak saat mengemudikan mobilnya pada tanggal 29, pukul 3 pagi di jalur akses jalan lingkar dekat Yangchon-dong dan tanpa saksi mata ataupun rekaman CCTV. Dari hasil otopsi korban tewas seketika setelah sebutir peluru bersarang di kepalanya. Kasus ini terjadi seminggu setelah kasus pertama yang serupa, untungnya korban pertama selamat, tapi masih belum sadarkan diri. Lalu disusul penembakan serupa beberapa hari kemudian.

Dalam kasus ini data yang dimiliki kepolisian adalah keterangan saksi, hasil otopsi gambar dan laporan, barang bukti bubuk mesiu, dan laporan analisis TKP.

Bukti Fisik:

  1. Kejahatan ini menggunakan senjata api, karenanya kepolisian akan menyelidiki orang-orang yang memiliki akses senjata, seperti veteran dan orang militer. Tapi ternyata tidak berhasil. Jadi Profiler di sini berpendapat jika pelaku membuat atau merakit sendiri senjata apinya. Apalagi saat ini tidak ada regulasi tentang pistol pribadi ilegal, sehingga membuat pelakunya makin sulit dilacak. Dugaan ini dikuatkan dengan semua lubang pelurunya berbeda, artinya tekanan pada peluru tidak konsisten, jadi jelas, senjata yang digunakan adalah rakitan sendiri pelaku.
Bukti Psikologi:
  • Korban sama-sama berumur 40an tahun, dengan tampilan fisik memiliki kemiripan. Dapat disimpulkan jika korban melambangkan sesuatu bagi pelaku;
  • Sebagian besar bubuk mesiu ditemukan di pipi kiri kedua korban. Mereka ditembak dengan pistol laras panjang melalui jendela kursi penumpang. Luka tembak pada korban kedua berdiameter lebih besar. Diasumsikan jika pelaku memotong mulut pistolnya pada aksinya yang kedua. Pelaku belajar dari pengalaman sebelumnya, apa yang akan dilakukannya jika ingin menembak dengan mudah. Ini membuktikan jika pelaku mempelajari bagaimana cara membunuh dengan mudah;
  • Dari luar kelihatannya pelaku tidak memiliki motif, tapi sebenarnya ada. Profiler berasumsi jika pelaku melakukan pembunuhan pertama karena terpicu oleh kemarahan. Tapi pembunuhan yang kedua pelaku memiliki motif yang jelas. Jadi Profiler perlu mencari tahu apa yang telah terjadi pada pelaku. Memakai senjata mematikan seperti pistol untuk menekan pelaku yang penakut. Dapat diasumsikan jika pekerjaan pelaku menguras banyak emosi, seperti sales yang menghadapi banyak orang;
  • Melihat dari waktu yang dipilihnya di kasus kedua yang tidak banyak orang, pasti pelaku sudah terbiasa memendam kemarahannya dan tidak mengungkapkan perasaannya dalam waktu lama. Terlalu sibuk dengan pekerjaan dan telah terbiasa mempelajari perasaan orang lain. Pelaku juga perfeksionis yang suka bekerja seorang diri. Memiliki sosok yang rendah diri yang selalu berusaha menghindar dari kritik orang lain. Selain itu pelaku juga berkepribadian lemah dan tidak akan pernah mengungkapkan kemarahannya. Pada suatu titik sulit bagi pelaku untuk menahan kemarahan itu. Dari analisis ini kemungkinan pelaku dapat dikategorikan psikopatologi (studi tentang penyakit mental, tekanan mental, dan abnormal/perilaku maladaptif);
  • Penembakan pertama kemungkinan tidak disengaja karena pelaku meninggalkan seorang saksi. Dan jika memang tidak sengaja, bisa jadi mobil yang dipakai pertama kali adalah mobilnya yang sebenarnya;
  • Ada saksi mata dari seorang pekerja konstruksi jalan dekat TKP, melihat seorang pria berkacamata hitam dalam kegelapan yang terus mondar-mandir dengan mobilnya dengan berpakaian nyentrik. Dan ketika ada seseorang yang mendahului mobilnya, pelaku mengulurkan tangannya pada kursi penumpang, seperti sedang melindungi seseorang, padahal kursi penumpang itu kosong. Kemungkinan jika uluran tangan itu adalah gerak reflek yang biasa pelaku lakukan untuk melindungi keluarganya. Ini membuktikan jika pelaku memiliki istri dan anak. Berarti selama ini pelaku mencari korban untuk menggantikan istrinya tapi tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan dan mulai bersandiwara;
  • Dari analisis tersebut bisa disimpulkan profil pelaku:
  • Pakaian dan maskulin yang berlebihan, korban yang dipilihnya berpenampilan mirip. Selain itu penembakan pertamanya adalah seorang wanita. Semua ini menyatakan pelaku mengalami krisis maskulinitas;
  • Korban pertama tidak disengaja, tapi pasti ada trauma serius yang menyebabkannya. Dapat disimpulkan jika pelaku pengidap skizofrenia (Gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Kondisi yang biasanya berlangsung lama ini sering diartikan sebagai gangguan mental mengingat sulitnya penderita membedakan antara kenyataan dan pikirannya sendiri; [sumber: klik di sini]
  • Berusia 40 – 50 tahun dari penampilannya;
  • Menilai dari kejahatannya pelaku penakut dan kemungkinan diremehkan sebagai kepala keluarga;
  • Memiliki 3 mobil, sedan hitam, sedan biru, dan SUV biru;
  • Menimbang dari pernyataan saksi pertama kemungkinan besar pelaku adalah pekerja kelas menengah;
  • Melihat pola kejahatannya, pelaku tidak asing dengan daerah TKP;
  • Ada kemungkinan besar pelaku tidak dapat menerima kehidupan nyata. Karena tidak terkendali, besar kemungkinan orang – orang di sekitarnya dalam bahaya.
Artikel Terkait:  4 Rekomendasi Drama Korea yang Dibintangi Oleh Kim Soo Hyun

Dari analisis di atas kita bisa melihat siapa yang memungkinkan sebagai pelaku, juga sebagai acuan bagian investigasi dalam mencari latar belakang pelaku. Siapa saja yang memiliki mobil tersebut di daerah Yangchon-dong, dan yang pernah melakukan transaksi pembelian peluru ilegal,

Jadi kira-kira begitulah tugas seorang Profiler, memetakan tersangka dan terkadang diharuskan berpikir seperti pelaku kejahatan. Drama korea ini nggak ada cinta-cintaannya sama sekali. Tapi menegangkan dan seru, penonton jadi sedikit banyak mengetahui tentang psikologi forensik dan profesi yang tidak biasa ini.

Psikologi forensik sendiri di Indonesia masih belum sering digunakan dibandingkan dengan negara luar, dikarenakan keterpercayaan pemerintah dan psikolog forensik sendiri di Indonesia masih sangaaattt jaraaanggg. Akan tetapi, berdasarkan pemberitaan televisi kita bisa melihat psikologi forensik semakin berpengaruh. Penerapan psikologi di mata hukum dinilai penting dan membantu penyelsaian kasus kejahatan dikarenakan banyaknya kasus kriminal yang disertai masalah mental. Contohnya saja beberapa media menanyakan pendapat psikolog mengenai kasus kriminal seperti kasus mutilasi yang dilakukan Ryan (tahun 2008) dan kasus Ade Sara yang dibunuh pacar dan temannya (2014). [sumber: klik di sini]

Baiklah, terima kasih telah membaca hingga selesai. Sampai jumpa di tulisan gaje berikutnya.

Salam sayang,
Ning!