Parenting, Pregnancy

Perjuangan Melahirkan Normal, Nggak Semenakutkan Kata Orang

Tantangan di hari ke-3, dalam 30 Hari Menulis Cerita bareng Kubbu (Klub Blogger dan Buku). Aku ingin menuliskan kenangan pertemuan pertamaku dengan Rhe.

Pas banget, dari dulu sebenernya udah pengin cerita soal kelahiran Rhea. Tapi kok nggak terealisasi. Makasih banget Kubbu, karena ikutan challenge ini jadi kesampaian mengabadikan kenangan Rhe lahir ke dunia dalam tulisan.

Ini pertama kalinya aku melahirkan seorang bayi. Dengan berat 3,7kg secara normal. Yang kala itu aku beneran nggak pernah senam hamil. Cuma sering nonton YouTube soal prenatal gentle yoga, dan itupun juga nggak konsisten.

Akhirnya, ini jadi pelajaran berharga buatku. Ikut senam hamil itu emang penting banget, terutama untuk bekal pernapasan saat melahirkan normal, apalagi anak pertama. Yang notabene orangtuanya buta banget soal cara mengejan yang benar. Bukan teriak-teriak seperti di sinetron ya. Haha

 

Kontraksi awal

Saat itu aku tidur dari jam delapan malam, pulang dari periksa ke dokter spesialis kandungan langsung tepar. Pas jam 11 malam, aku ngerasain perut mulas. Mulasnya nggak kayak yang orang-orang bilang, yang katanya mulas pengen BAB. Yang aku rasain beda, mulas yang sakit gitu di perut.

Akhirnya aku bangun, lalu berdiri dan jalan-jalan di dalem rumah sambil pantau interval kontraksinya melalui aplikasi Contractions Timer (Labor). Dari pantauan aplikasi itu, aku belum disuruh berangkat ke rumah sakit. Jadi masih dalam kondisi aman. Bisa jadi itu kontraksi palsu.

Tapi sejam kemudian, kontraksinya teratur jadi lima menit sekali. Akhirnya aku bangunin Mas Bojo yang masih terlelap. Pas aku bangunin dia yang kayak excited tapi juga takut, haha.

Ketika aku ajak berangkat ke bidan aja, dia izin ke toilet dulu. Saking nervousnya, istri mau lahiran, dia sampe mulas-mulas. Waktu itu, aku masih bisa menertawakan kekonyolan dia. Haha

Drama tengah malam sampai pagi

Setelah menunggu Mas Bojo selesai dari buang hajat, kami berangkat ke bidan untuk periksa. Apakah beneran sudah mau lahiran atau belum.

Artikel Terkait:  Pengalaman Mengatasi Infeksi Jamur Mulut (Oral Trush) Pada Bayi 1 Tahun

Jam satu malam, gedor-gedor tempat praktek bidan. Dan yang keluar asistennya. Dicek pembukaan, katanya masih pembukaan satu. Dan katanya jika anak pertama dari pembukaan satu sampai sepuluh itu lama, ada yang dua hari juga. Akhirnya disuruh pulang lagi. Duh, padahal lumayan jauh dari desa ke kecamatan tempat praktek bidan.

Sampai di rumah, kontraksinya malah makin sakit. Karena udah nggak nyaman, aku minta Mas Bojo bikinin teh hangat. Baru juga duduk di kasur, waktu kontraksi ada yang basah-basah juga. Ternyata, darah!

Paniklah itu kami berdua, soalnya anak pertama belum ada pengalaman kan. Berkali-kali nelponin Bu Win, bidan yang punya tempat praktek tadi, tapi nggak ada respon. Kayaknya sih masih tidur, udah gitu tadi lupa juga nggak minta nomor HP asistennya.

Karena nggak mau bawa istrinya yang lagi nahan sakit bolak-balik, akhirnya Mas Bojo sendirian balik ke bidan lagi. Tanya perihal darah tadi. Kata asistennya tadi itu hal wajar, nggak apa-apa, tunggu sampai besok pagi.

Masuk kamar rawat

Jam empat pagi ada notifikasi dari Bu Win, yang tadinya aku kirim pesan via WhatsApp berikut foto darahnya. Aku disuruh balik lagi ke sana secepatnya.

Dicek lagi pembukaan, kali ini Bu Win sendiri yang cek, alhamdulillah udah nambah bukaannya jadi dua. Katanya sih pembukaan dua ke lengkap itu nggak lama. Jadi langsung suruh masuk kamar dulu agar bisa dipantau.

Walau sakit, sambil mengatur napas, aku tetep jalan-jalan di sekitar ruangan. Ini ikhtiar ku agar pembukaan cepat nambah.

Waktu itu sudah agak siang, antara jam tujuh atau jam delapan pagi, dicek lagi pembukaan nambah lagi jadi tiga. Setelah cek, Bu Win keluar kamar. Balik lagi bawa alat gitu, aku nggak tau apa. Ternyata buat mecahin ketuban biar pembukaan cepet nambah.

Dan sebelum dipecah ketuban itu, aku nggak ngerti dikasih infus apa atau ini efek dari air ketuban yang dipecahin, pokoknya kontraksi makin lama jadi makin hebat.

Pindah ke kamar bersalin

Ini sih, yang aku bilang sangat menyesal nggak ikutan senam hamil. Haha

Artikel Terkait:  Trigger Finger di Jari Rhe yang Berusia 9 Bulan

Aku nggak kuat ngejan saudara-saudara. Sampai dari kamar rawat nggak berhasil, pindah ke kamar bersalin nggak kunjung berhasil juga. Padahal bukaan sudah lengkap.

Untuk menambah energi, aku sampai dibeliin es campur, dan tiap selesai ngejan istirahat dulu minum es campur. Haha

Suami juga terus ngasih semangat dengan pegang tanganku keceng banget, dan kata-kata yang aku inget, “ayo kamu pasti bisa, kasian Baby R kelamaan di jalan lahir. Pasti bisa, pasti bisa, pasti bisa!”

Dan itu kayak mantra sih buatku, alhamdulillah, dengan tekad yang kuat akhirnya pukul 10.15 WIB, Rhe lahir ke dunia dengan berat badan 3,7kg, tinggi 49cm. Sehat, normal, tanpa kekurangan. Terimakasih ya Allah.

Pas lahir Rhe nggak langsung nangis, sama Bidan Win dipegang kakinya, jadi Rhe dalam kondisi kepala di bawah trus dipukul pantatnya sambil bilang, “nangis!”

Alhamdulilah Rhe langsung nangis kenceng banget. Dan Mas Bojo juga ikutan nangis sambil meluk aku. Tapi, yang aku rasain kayak datar aja gitu, ini aku nggak tau kenapa. Dan ini belum pernah aku ceritain ke siapapun juga.

Setelah dibersihkan dari darah, Rhe dikasih ke aku untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini), bayi di taruh di dada dan dia akan mencari sumber makanannya sendiri tanpa disuruh, diajari, atau diminta. Keren banget ya, bayi baru lahir aja udah punya insting bertahan hidup.

Tapi saat itu, yang aku rasain …. Asing. Rhe kayak sesuatu yang aneh buatku. Belum ada rasa sayang seperti sekarang.

Dan efek samping dari kelamaan di jalan lahir tadi, kepala Rhe ada yang gembur kayak agar-agar. Wajahnya juga merah-merah. Maafkan ibu ya dek.

Rasa asing itu perlahan luntur

Apakah ini yang dinamakan baby blues? Aku nggak tau, soalnya nggak pernah periksa juga. Tapi beberapa jam ketika melihat wajah Rhe yang lucu, perlahan aku menyayanginya, sayang yang teramat sangat, melebihi diri sendiri mungkin. She’s my priority now.

Hal yang perlu dipersiapkan menjelang persalinan normal

Keperluan bayi:

  • Baju
  • Popok kain
  • Kaos dalam
  • Selimut
  • Bedong
  • Topi
  • Sarung tangan dan kaki
  • Washlap
  • Minyak telon
  • Kapas bulat
  • Sabun mandi & shampoo
  • Handuk
  • Kasa steril untuk tali pusat
  • Popok sekali pakai
Artikel Terkait:  Mengintip Wajah Baby R Dengan USG 4D

Keperluan orangtua:

  • Baju ibunya untuk ganti, kalau bisa yang ada kancing, atau baju khusus ibu menyusui
  • Pakaian dalam
  • Kain jarit atau sarung
  • Handuk
  • Baju ayah
  • Sabun mandi, sikat gigi, odol, shampoo
  • Pembalut khusus setelah melahirkan
  • Charger HP
  • Skincare (walau melahirkan, perawatan jangan dilupain, hehe)
  • Camilan biar tetap memiliki tenaga
  • Surat-surat penting seperti KTP, KK, dan Kartu Asuransi Kesehatan (BPJS). Juga buku kontrol waktu hamil jangan sampai lupa.

Semua barang di atas, aku masukin ke dalam tas besar atau bisa juga koper, taruh di pojok kamar, jadi nanti ketika berasa kontraksi melahirkan, tinggal bawa aja tasnya. Nggak perlu repot menyiapkan lagi. Percaya deh, dalam kondisi panik, dibarengi dengan packing pasti nggak efisien. Bisa jadi akan ada banyak barang penting yang ketinggalan.

Duh, seru banget deh waktu melahirkan Rhe, walau banyak dapat jahitan. Tapi cepet banget kok sembuhnya, dua minggu setelahnya aja aku udah bisa bonceng motor naik turun lembah. Haha

Sakitnya ya emang sakit banget, tapi pasti bakal terlewati juga. Dan rasa sakit itu sebanding dengan kehadiran anggota keluarga baru yang sekarang ini bikin aku ketawa terus.

Tips perawatan jahitan lahiran normal agar cepat sembuh

  • Sesering mungkin ganti pembalut. Sesering apa? Ketika udah terasa lembab banget, dan setiap kali BAK (Buang Air Kecil) dan BAB (Buang Air Besar).
  • Setiap habis BAK dan BAB selalu lap kering dengan tissue baru ganti.
  • Jangan bergerak terlalu heboh. Seperlunya saja
  • Ketika BAB jangan mengejan, ikuti insting alami saat BAB.
  • Jangan jongkok dulu.
  • Minum obat dari bidan/dokter agar jahitan cepat sembuh dan nggak ada infeksi.

Okay, akhirnya sampai juga di ujung. Ini juga bisa jadi knowledge buat para cowok, biar kelihatan keren gitu di mata wanita, ngerti soal beginian. Hehe

Makasih juga buat Mas Bojo yang tanpa lelah mengurus perihal rumah tangga selama aku fokus ke pemulihan. Beneran deh, suami idaman itu bukan cuma yang ganteng dan duitnya banyak. Tapi juga suami yang mendampingi istrinya, membantu istrinya, dalam setiap keadaan. Hihi

Salam sayang,

Ning!