Movie Time

Review Film Rentang Kisah, Bagus Bukunya atau Filmnya?

Baru beberapa menit yang lalu selesai nonton film Rentang Kisah di Disney+ Hotstar. Yup! Alasan utama aku berlangganan Disney+ karena film Rentang Kisah. Haha … Iya, aku sebuncin itu! Sesuka itu sama Gita! Jadi penasaran banget sama filmnya.

Rentang Kisah adalah film adaptasi bukunya Gita Savitri Devi dengan judul yang sama. Jadi, ini kayak semacam film biografi gitu.

Aku ini memang bisa dibilang suka banget sama Gita. Udah lama jadi subscriber YouTube-nya, yang isinya sangat menghibur, menginspirasi, dan sangat berfaedah buatku. Jadi, pas ngomongin filmnya ini, aku pasti bakal subjektif banget, hehe

FILM RENTANG KISAH BERCERITA TENTANG APA?

Seperti buku yang Gita tulis, film ini bercerita tentang dirinya yang struggling ketika kuliah di Jerman. Bagaimana perjuangan dia dalam beradaptasi ke dalam culture, bahasa, dan society yang berbeda.

Gue nggak ngerti sama sekali deh. Padahal ya, gue udah kursus Bahasa Jerman dari SMA. Tapi, kayaknya bahasa Jerman di sana sama di sini beda deh.

Pernah nggak sih ngerasa begitu? Kalau aku pernah banget. Ketika dulu les Bahasa Inggris, waktu di kelas, guru lesku speakingnya mudah dimengerti. Tapi, begitu dilempar keluar ketemu bule langsung, apalagi tuh bule aksen British nya kental banget, dalem hati bilang. “Ini orang ngomong apa sih? Kok beda sama yang diajarin di kelas. Haha …”

Akhirnya, masalah aksen itu agak teratasi ketika banyak nonton film British tanpa subtitle. Yah, kadang emang gitu kan, teori sama kenyataan itu beda banget. Ngomong gampang, prakteknya yang susah.

Nah, balik lagi ya, ada kisah perjuangan Gita sebagai mahasiswa rantau yang memiliki masalah keuangan, ia dituntut untuk bertahan dan mencari solusi atas masalahnya ini.

Juga terselip kisah asmara yang mewarnai susah senang perjuangannya. Bagaimana penghianatan membawanya pada titik terendah, hingga pertemuan yang memberi harapan.

Artikel Terkait:  List Film yang Pemainnya Anak-anak Imut

Lucu banget sih, pertemuan Gita dengan Paul. Lelaki yang sekarang ini jadi suaminya. Jauh dari kesan romantis, tapi berkesan. Duh, gimana tuh maksudnya? Hehe … Orang yang berharga memang orang yang care sama kamu ketika kamu sedang butuh dukungan.

Buat yang belum tau, Gita Savitri Devi atau lebih dikenal dengan Gitasav adalah seorang youtuber. Dia kuliah S1 di Jerman mengambil jurusan Kimia Murni. Di saat yang lain membuat konten video prank, Gita membuat konten yang berbeda. Yaitu beropini tentang isu sosial, toleransi agama, vlog kehidupannya di Jerman, vlog liburannya, dan kadang juga suka review produk skincare gitu.

GITA DAN GEJOLAK DIRINYA

Typical remaja yang beranjak dewasa. Anak SMA yang baru memasuki jenjang perkuliahan. Gita juga memiliki pergulatan emosi dengan dirinya sendiri.

Gita nggak tau, dia mau kuliah di mana, ambil jurusan apa, mau jadi apa setelah kuliah. Pokoknya di masa depannya nanti bakal gimana, dia belum punya bayangan apa-apa.

Gita hanyalah seperti remaja kebanyakan, sekolah, abis sekolah kuliah, abis itu kerja. Saat sekolah pun dia juga nggak serius-serius banget. Cuma kayak kewajiban gitu loh. Jadi, pas mamanya nanya passion kamu itu apa? Gita kebingungan sendiri jawabnya.

Jadi, di sini pencarian jati dirinya berasa banget. Mamanya juga punya andil besar. Mamanya Gita tuh perannya sebagai mentor kalau dilihat dari tipe archetype tokoh. Dia mengarahkan Gita untuk mengambil keputusan-keputusan terbaik tanpa menyetir dan memaksakan kehendak. Mamanya ingin, Gita memutuskan sendiri pilihan terbaik dalam hidupnya.

Duh, jadi baper. Aku sebagai seorang ibu juga, ngefans banget deh sama mamanya Gita. Dia itu ibu yang keren. Semoga nanti aku bisa menjadi ibu keren seperti beliau. Amin.

Kalau dulu kan, kamu pakai jilbab karena disuruh mama. Berhubung kamu sudah besar, ya memang harus disuruh oleh hatinya sendiri

Ada juga scene ketika Gita memutuskan melepas jilbabnya saat di Jerman karena melihat temannya yang modis abis, sedangkan dia kok keliatan culun. Dan merasa nggak nyaman dengan jilbab yang dikenakannya.

Artikel Terkait:  Mengenal Profesi Profiler Dari Criminal Minds

Pokoknya relate banget deh, sama aku dulu pas masih labil. Masih memikirkan penampilan dan pandangan orang lain akan dirimu.

BAGUS BUKUNYA ATAU FILMNYA?

Karena fansnya Gita, aku juga udah baca bukunya dong! Haha

Biasanya, ketika kamu sudah membaca sebuah buku yang difilmkan, sepanjang film kamu akan membandingkan dengan bukunya. Wah, kok gini? Eh, kok gitu? Duh, aktingnya kok? Lho, ceritanya kok jadi gini?

Iya nggak sih? Apa cuma aku aja yang begitu? Membandingkan buku dengan filmnya. Tapi, enggak untuk Rentang Kisah. Aku sama sekali nggak membandingkannya dengan bukunya. Salah satu alasannya karena memang aku sangat menikmati filmnya.

Akting pemainnya bagus-bagus kok, apalagi aktingnya Bio One, yang jadi Paul. Gelagatnya beneran kayak Paul asli. Haha… Jadi pas nonton, bukannya ngebandingin sama bukunya, tapi malah sama tokoh aslinya.

YANG AKU SUKA

Wah, banyak banget sih sukanya. Jalan ceritanya, feelnya pas nonton tuh kayak baper gitu sepanjang film.

Papa pernah bilang sama mama, cinta orang tua itu, tanpa pamrih. Tapi itu bukan cinta sejati. Karena kita nggak bisa memilih orang tua kita kan? Di saat kita memilih teman, dan dia memilih kita untuk menjadi teman, dan saling mencintai. Itu namanya sejati.

Aku juga suka banget aktingnya Cut Mini yang berperan sebagai mamanya Gita. Cocok banget, keibuannya dapet, nggak usah diragukan lagi lah kalau Cut Mini. Dia kan emang aktris senior yang nggak usah diragukan lagi kemampuan aktingnya. Sosok mamanya Gita ini kuat banget sih karakternya. Salut sama Cut Mini!

Terus yang aku suka lagi, Gita juga jadi cameo beberapa detik di sini. Pas dia nongol kayak. OMG! Gitaaaa! Girang sendiri pokoknya, haha

Artikel Terkait:  Kesan Nonton Resident Evil: The Final Chapter

YANG AKU KURANG SUKA

Ceritanya di awal terkesan buru-buru. Nggak slow kayak bukunya. Juga kurang detail kayak di buku. Ya iyalah, kebanyakan film juga gitu kali. Kalau mau detail ya baca bukunya.

Sama perpindahan cerita yang kurang smooth atau terkesan loncat-loncat. Tau nggak sih rasa ketika oper gigi motor pas di tanjakan dan kamu kayak lupa gitu, kayak ada hentakan dikit gitu kan? Nah, ini rasanya juga gitu. Entah deh, itu analogi ku udah tepat atau belum. Haha

Terus, aktingnya Beby Tsabina kurang mirip sama Gita. Tapi udah bagus kok, feelnya juga dapet. Cuma ya, nggak kayak Bio One yang Paul banget, Beby Tsabina kurang jadi Gita.

Aku berharapnya sebagai penonton, kerja keras Gita saat belajar itu ditonjolin banget gitu. Jadi biar dapet aja strugglingnya juga feelnya. Kayak film korea kalau lagi belajar beneran sangat ditonjolkan dengan buku-buku yang nggak cuma banyak, tapi detail dengan kasih note-note di buku. Belajar dengan corat-coret di buku sampai mimisan, sampai tangannya luka-luka karena kelamaan nulis. Pokoknya gitu-gitu deh, biar kesan perjuangannya sebagai mahasiswa ngena di hati.

Overall, aku suka film ini. Aku juga sangat menikmatinya. Terimakasih Falcon. Terimakasih Gita. Atas kerja keras kalian untuk mewujudkan film yang keren dan menginspirasi.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Salam sayang,

Ning!