Daily Life

Sekelumit Kisah Tentang Sosok Dibalik Ingoldlife[dot]com

Sebenarnya bingung juga kalau disuruh untuk menulis tentang diri sendiri. Karena aku bukan tipe orang yang suka show off atau jadi pusat perhatian apalagi narsis. Kalau bisa sih, aku lebih suka sembunyi biar orang nggak tau.

Tapi, demi tantangan dari Kubbu (Klub Blogger dan Buku) untuk 30 Hari Menulis Cerita, dengan tema hari pertama, “Siapa aku?”, aku akan menulis sedikit tentangku. Bukan hal yang spesial, karena memang aku orang yang biasa saja.

Pas banget sebenarnya, aku juga belum isi menu about me di blog ini, hehe

Perkenalkan, nama lengkapku Supraptiningsih. Biasa dipanggil Ningsih atau Ning!, anak bungsu dari tiga bersaudara. Aku orang jawa, makanya namaku jawa banget kan. Nama itu pemberian dari Mbah Kakung.

Mbah Kakung itu orangnya sangat baik, kami para cucunya memanggilnya bukan Mbah, tapi Bapak. Karena memang beliau sudah seperti sosok Bapak bagi kami yang nggak punya Ayah. Aku sih nggak tau detail kapan Ibu dan Ayahku berpisah. Tapi yang jelas, terakhir kali aku bertemu dengan Ayah waktu masih SMP. Sekitar lima belasan tahun yang lalu.

Oke, kayaknya ini nggak cocok dijadikan menu about me, soalnya lebih ke curhat daripada ke profesional atau buat personal branding, misalnya. Haha …

Tapi memang, tentang asal-usul namaku belum pernah sih, aku ceritakan ke orang lain. Ini pertama kalinya aku cerita. Dan aku jadi kangen Mbah Kakung.

Anyways, sekarang ini aku tinggal di Wonogiri. Ada yang tau nggak ya Wonogiri itu di mana? Biasanya kalau ada orang tanya, “asal kamu dari mana?”

Dan ketika aku jawab Wonogiri, pasti kebanyakan nggak tau. Tapi kalau aku tambahin, deketnya Solo, orang pasti langsung paham. Padahal Solo – Wonogiri itu cukup jauh. Dua jam perjalanan naik kendaraan pribadi, dan bisa tiga jam jika naik bus.

Artikel Terkait:  Pengalaman Kuret (Kuretase)

Kampung tempatku tinggal bukan di kota Wonogirinya, masih satu jam perjalanan dari kota. Sinyal provider yang masuk pun hanya Telkomsel dan Indosat. Tapi tetap Telkomsel sih yang paling lancar. Mau pasang wifi juga nggak bisa, kabelnya belum sampai sini.

Perihal sinyal ini sebenarnya yang bikin aku nggak betah di kampung. Dulu setiap mudik paling lama di kampung hanya dua minggu, jadi stress mencari sinyal bisa diobati dengan wisata kuliner dan jalan-jalan.

Tapi sekarang, ketika aku memutuskan untuk menetap, itu lain soal. Yang tadinya menggunakan provider lain, akhirnya memutuskan untuk pindah ke Telkomsel. Walau setiap masuk kamar, nggak tau kenapa sinyal ikutan raib.

Pandemi Covid19 juga mengakibatkan nggak bisa jalan-jalan, banyak tugas rumah yang menumpuk, merawat anak bayi yang lagi aktif-aktifnya, dan tanpa dampingan suami. Cukup membuat emosiku nggak stabil.

Ternyata, seorang wanita yang tadinya bekerja, punya penghasilan sendiri, lalu tiba-tiba di rumah saja, yang pekerjaannya lebih melelahkan dari pekerjaan kantoran. Lebih menguras emosi, dan nggak dapat bayaran. Itu merupakan beban berat yang seperti tiba-tiba dilemparkan ke kepala. Bikin pusing.

Tapi di samping itu, walau bukan materi yang dihasilkan. Nggak bisa dipungkiri, menjadi seorang ibu memang menyenangkan. Terutama ketika melihat anak bahagia, tumbuh dengan sehat, dan normal. Bahagianya memang nggak bisa dibandingkan dengan uang. Kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Bahagiaku yang paling bahagia.

Akhirnya, untuk self healing, media untuk melarikan emosi negatifku tadi, aku memutuskan untuk kembali menghidupkan blog yang sudah jarang aku kunjungi. Pengin fokus nulis, agar dalam kehidupanku ada progres walau aku di rumah saja.

Mungkin memang aku ini orangnya suka tantangan. Jadi suka bingung ketika semua rutinitas sebagai ibu sudah selesai, stok bacaan habis, aku harus ngapain? Kayaknya kalau nonton terus, baca terus, kok ya kayak nggak ada tantangan.

Artikel Terkait:  You and Me

Jadi, untuk menantang diri sendiri, akhirnya aku nekat beli domain, belajar ngeblog, belajar menulis, dan masih banyak lagi yang perlu dipelajari. Haha …

Umur blog ini belum ada dua bulan. Dan ternyata menjadi blogger itu nggak mudah ya? Banyak proses yang harus dilewati, dan cukup challenging buat aku.

Dengan banyaknya permasalahan teknis, mulai dari nggak ngerti dengan penggunaan WordPress, karena sebelumnya aku pakai blogspot. Hal ini bikin aku bergairah setiap harinya. Seru aja gitu, coba otak-atik ini itu, cari tema buat bahan tulisan, pantau trafik yang nggak naik-naik. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti pantau trafik untuk sementara.

Sekarang sih lebih fokus ke nulisnya dulu. Lebih fokus ke self healingnya dulu. Jangan menambah beban lagi dengan perkara trafik. Haha …

Baiklah, akhirnya kita sampai di ujung. Terimakasih buat kamu yang bertahan baca tulisan ini hingga akhir. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

Salam sayang,

Ning!